Indomilk (1969)

Susu Indomilk - Suluh Marhaen, 27 November 1969
Iklan terlawas di blog ini. Indomilk masih berusia dua tahun saat itu. Suluh Marhaen, 27 November 1969.

Tidak terasa Indomilk, salah satu merk susu kental manis kebanggaan anak bangsa, sudah berusia 53 tahun. Dibentuk pada bulan Juli 1967, merek susu ini sudah menjadi milik Indofood, dan memiliki variasi rasa dan produk. Awalnya, produk pertama Indomilk adalah susu kental manis, pelopor di Indonesia.

Iklan yang tercetak di harian Suluh Marhaen, sekarang Bali Post, koran daerahnya penulis blog ini, menyasar pemilik toko yang berminat menjual kaleng susu kental manis Indomilk. Saat itu perusahaan Australia Indonesian Milk Industries beserta merk Indomilk baru berusia dua tahun. Kantor distributor lama, milik firma “Tjakrawala”, di Jalan Dr. Sutomo No. 55 Denpasar, sekarang hanya menjadi sebuah toko, sementara gudang distribusinya ada di Bypass Ngurah Rai; kantor di Singaraja tidak diketahui.

Sumber tambahan: https://web.archive.org/web/20010430023039/http://www.indomilk.com/indonesia/ (30 April 2001)

Selai Jolly (1982)

“Apa yang lebih menyenangkan selain kembalinya selai Jolly?” Femina, 16 November 1982, halaman bolak balik. (Flickr)

Inilah selai Jolly, yang katanya diproduksi oleh Unilever. Selai cokelat ini menyasar anak-anak dengan janji menghasilkan selai yang sehat, lezat dan menyenangkan. Sayang, produk yang diklaim oleh seorang fans era 1980an di dunia maya tersebut seperti Nutella, sudah tak diproduksi lagi.

Iklan ini dicetak dua halaman bolak balik, mungkin agar memancing pembaca majalah untuk membolak-balik isi pesan iklan yang dimaksud. Tapi di realitas masa zaman sadar diabetes, kampanye tersebut bisa dicap memancing anak-anak memakan banyak gula, karena kandungan selai cokelat biasanya sangat tinggi.

Sumber (termasuk dua iklan selai Jolly lainnya):

Pasta Gigi Darlie (1988)

Darlie - Kartini, 25 Juli 1988
George Floyd pun menangis andai ia melihat iklan ini. Kartini, 25 Juli 1988.

Rasanya anda setuju, iklannya sangat rasis sekali. Lihat saja logo dan namanya.

Merk pasta gigi Darkie sudah ada di Indonesia dari awal Orde Baru. Salah satu iklan Darkie terlama yang penulis temukan muncul pada tahun 1978, di harian KOMPAS, akan dimuat di lain hari. Produk pasta gigi ini diproduksi oleh Hawley & Hazel sejak 1933, dan dijual di beberapa negara. Di Indonesia, merk Darkie diproduksi oleh Filma Utama Soap, anak perusahaan Tempo Scan Pacific.

Iklan tersebut dimuat oleh Metro Advertising, yang diambil alih biro asal Perancis, Publicis sejak 2001.

Saat iklan ini terbit, merk Darkie, yang menguasai pangsa pasar besar di negara-negara Asia Timur dan Tenggara, kecuali Indonesia yang sepertinya kelenger menghadapi dominasi Pepsodent dan Ritadent, sedang dalam sorotan masyarakat kulit hitam Amerika Serikat, ormas-ormas kulit hitam seperti NAACP dan beberapa gereja. Lambang orang blackface dengan mata melotot dan topi panjangnya, dengan nama “darkie”, istilah yang digunakan untuk merendahkan derajat masyarakat kulit hitam, menjadi akar masalahnya.

Kontroversi yang merebak di Amerika inilah yang membuat Colgate, meminta anak perusahaannya, Hawley & Hazel, (Colgate membeli Hawley & Hazel pada tahun 1985) untuk mengganti nama merk tersebut menjadi “Darlie”, secara bertahap. Indonesia baru menerima nama baru, beserta logonya yang tidak terlihat rasis lagi, pada tahun 1991. 29 tahun kemudian, Colgate kembali meminta Hawley & Hazel untuk mengkaji dan mempertimbangkan kembali nama merk Darlie setelah pendemo, di bawah panji Black Lives Matter, mengamuk di seluruh dunia pasca-peristiwa George Floyd.

Sepertinya perubahan yang dilakukan pada 1989 ternyata tidak pernah memuaskan pihak kulit hitam, dan Hawley & Hazel tidak mau pangsa pasarnya ciut karena perubahan merk tanpa memahami karakter daerah. Antara uang dan todongan Black Lives Matter yang menolak lupa dengan nama rasis merek pasta gigi tersebut, Hawley & Hazel harus mengambil keputusan.

Sumber yang digunakan:

Sherwin Williams (1978)

Mengucapkan Hari Raya Galungan, Kuningan dan Nyepi. Bali Post, 25 Februari 1978.

Penulis tidak terbesit pikiran bahwa merek cat Amerika, Sherwin Williams, pernah diproduksi dan dijual di Indonesia, ketika saya membolak-balikkan kertas koran rapuh Bali Post di Perpusda Bali akhir 2018 lalu. Kenapa? Pertama, merk ini jarang terdengar. Selain itu, dalam perkembangan terakhir, Sherwin Williams lebih banyak berkancah di pasar pertukangan dan industri cat di negara-negara NAFTA, terutama AS dan Meksiko. Bagaimana merk ini muncul dan menjadi tidak begitu populer di Indonesia masih misterius. Merk cat yang familiar bagi penulis dan beberapa orang Indonesia hanya Avian Paints, Danapaints, Nippon Paint dan sebagainya.

Merk Sherwin Williams saat itu, mengutus Scooby-Doo, anjing piaraan si Shaggy dkk untuk memecah misteri, sebagai duta merk cat tersebut. Sayangnya, karena salah cetak, tulisan “Scooby Doo Loves You!” kurang terlihat jelas. Slogan dan logo “Cover the Earth” Sherwin Williams, menegaskan tujuan dan keinginan brand Sherwin Williams agar catnya digunakan di tembok-tembok di seluruh dunia. Dengan perkembangan saat ini, logo Cover the Earth tersebut dikritik habis-habisan.

Di bagian yang sama, Marvon Ad. menandakan bahwa salah satu biro iklan yang membuat iklan ini adalah Marvon Advertising. Kemungkinan sudah beralih mengelola reklame dan baliho. Saat terbit, bulan Maret sudah mendekat dan masyarakat Hindu di Bali akan merayakan hari raya Galungan, Kuningan dan Nyepi secara berurutan.

Tidak ada informasi lain mengenai cat Sherwin Williams, bahkan di majalah Konstruksi koleksi pribadi penulis sekalipun. Saat ini, Sherwin Williams masih ada di Indonesia, dan berkantor di Surabaya.

Daihatsu Hiline GTL (1988)

Daihatsu GTL - Kartini, 25 Juli 1988
Mobilnya Perjaka bagi Para Wanita Berwatak Tangguh. Kartini, 25 Juli 1988.

Mobil lelaki di majalah perempuan? Kenapa tidak. Bisa dibilang Daihatsu sangat jago beriklan di majalah manapun selama bisa merebut pangsa pasar. Penulis janjikan iklan Daihatsu Charade dan Feroza seri F70, yang muncul di majalah arsitektur Laras belakangan hari.

Penulis menemukan iklan ini di majalah Kartini edisi 1988. Sepertinya iklan ini merupakan iklan GTL facelift, atau mungkin GTL baru diperkenalkan di tahun tersebut, penulis belum 100 persen paham, dan ditujukan untuk pemobil yang ingin “station wagon” (itu sebenarnya SUV) untuk keluarga mereka. Sebelumnya Daihatsu Hiline baru tersedia dalam sasis pendek atau GTS. Di masanya, mungkin suspensi yang dikatakan Charis Alfan agak keras dan kurang nyaman diklaim mulus dan lembut, dan mesin diesel 2,7 liter warisan Daihatsu Delta yang sekarang lebih berisik dari mesin common rail injection mobil diesel modern.

Di jalanan, mungkin di Bali, Daihatsu Hiline GTL, kode sasis F69, cukup jarang terlihat dibanding dengan GTS.

Detil selengkapnya bisa dibaca disini: https://www.mobilmotorlama.com/2017/08/daihatsu-taft-hiline-f69.html

Gayatri (1987)

“Gayatri, tradisi putri bahari untuk gaya putri masa kini.” Bali Post, 12 Februari 1987

Inilah iklan kecantikan yang tidak lagi rasis dan misoginis. Di era 1980an dan 1990an, PT Vitapharm, produsen kosmetik Viva yang sangat populer hingga saat ini, memproduksi kosmetik Gayatri, yang iklannya lebih menonjolkan keindonesiaan. Di iklan yang menawarkan lotion kulit ini, tidak ada kata yang menonjolkan kulit putih. Hanya menonjolkan kulit yang bersih, jernih dan harum. Dan kata jernih ini terbuka untuk diinterpretasikan.

Sekitar 1991 pertengahan, Vitapharm juga memproduksi make-up dan lipstik bermerek Gayatri. Sayang merek Gayatri sudah tidak ada; Vitapharm hanya memfokuskan diri pada merk Viva Cosmetics yang lebih senior dan lebih berhasil di pasaran. Iklan TV-nya juga masih menonjolkan ciri khas keindonesiaan.

Iklan Gayatri, ca. 1991. Uploader iklan ini adalah seorang eksekutif biro iklan asal Australia yang pernah menggarap iklan di Indonesia.

Sudah waktunya biro iklan Indonesia berhenti memproduksi iklan yang menjanjikan lotion “yang menjamin kulit putih terang”, karena terdengar dan diinterpretasikan sebagai kampanye rasis. Iklan Gayatri ini sepertinya cukup paham soal masalah tersebut, karena pemerintah Orde Baru sendiri sangat sensitif dengan isu-isu SARA.

Susu Dafa (1982)

Susu DAFA - Femina, 16 November 1982
Pionir kopi susu di Indonesia? Femina, 16 November 1982.

Merk susu ini anda tidak pernah anda dengar. Penulis baru tahu ada susu bermerek DAFA di Indonesia di tahun 1980an awal, mungkin 1970an akhir, melalui iklan majalah. Dalam iklan ini mereka menawarkan 4 rasa “yang menarik”. Susu murni manis, cokelat dan arbei sudah hal biasa; DAFA harus berkompetisi dengan Susu Ultra untuk susu kemasan UHT. Tetapi, ide kopi susu dalam kemasan ini sangat asing di masanya. Bisa dibilang Kopiko 78 dan Good Day sudah keduluan brand yang entah kapan berhenti berproduksi. DAFA adalah singkatan dari Dairy and Farmers-Cooperatives Associates, nama perseroan industri susu ini.

Ketika penulis menyerahkan sumur iklan pribadi ke sebuah fan page Facebook, iklan ini tiba-tiba menjadi bahan ledekan, karena nama orang Dafa banyak ditemukan di negeri ini, kadang disertai komentar-komentar cabul. Tapi, menyangkut rasa, susu DAFA rasa kopi berpeluang menjadi pionir dari kopi susu kemasan di Indonesia.

Superbusa (1982)

Tidak secemerlang dahulu. KOMPAS, 2 Mei 1982. Link

Diatas merupakan iklan deterjen batangan merk Superbusa yang diproduksi pada tahun 1980an awal. Di masa tersebut deterjen batangan memang sangat populer, karena, alasannya cukup sederhana, saat itu orang mencuci baju dengan papan dan anda kucek sendiri di batu atau papan kucek, orang tua penulis tahu lebih banyak soal deterjen bubuk. Zaman itu belum ada mesin cuci, dan kalaupun ada, hanya kalangan kelas atas yang mampu membelinya.

Dengan kemajuan zaman, dan populernya deterjen-deterjen kotak dan mesin cuci, bahkan dengan munculnya laundromat alias jasa binatu/penatu, deterjen batangan kehilangan gaungnya, bahkan sekarang sudah punah. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit.

Mungkin ada di antara anda, yang tahu siapa produsen deterjen Superbusa? Ada yang tahu ada merek sejenis, dan terakhir kali diproduksi?

Semoga Tuhan membimbing netizen Indonesia, dan penulis blog, menguak misteri merk Superbusa.