Birkin (1982)

Birkin - Femina, 7 September 1982
Persembahan Dr. Dralle bagi perawatan rambut. Femina, 7 September 1982

Birkin adalah merk shampoo dan tonik yang diproduksi oleh perusahaan kosmetik Jerman bernama Dr. Dralle, sejak tahun 1920 untuk pasaran Indonesia. Merk ini, pasca Dr. Dralle dicaplok L’Oreal pada tahun 1991 dan sekarang menjadi bagian dari lini produk Garnier tersebut masih eksis, tetapi sudah tidak dijual di Indonesia. Sebaliknya, Divisi NR Dr. Dralle sudah menjadi bagian dari perusahaan PMDN. Terbuat dari sari daun birch, merk ini pertama muncul di pasar dunia mulai tahun 1889.

Di era 1980an dan 1990an, Birkin adalah pesaing serius dari banyak merk shampo yang dijual di Indonesia; Sunsilk dari Unilever adalah pesaing beratnya. Sepertinya produsen sampo/tonik ini ingin terlihat menarik dengan mempertahankan bahasa Jerman di kemasannya. Dralle tahu caranya merawat rambut.

Sumber:

Gayatri (1987)

“Gayatri, tradisi putri bahari untuk gaya putri masa kini.” Bali Post, 12 Februari 1987

Inilah iklan kecantikan yang tidak lagi rasis dan misoginis. Di era 1980an dan 1990an, PT Vitapharm, produsen kosmetik Viva yang sangat populer hingga saat ini, memproduksi kosmetik Gayatri, yang iklannya lebih menonjolkan keindonesiaan. Di iklan yang menawarkan lotion kulit ini, tidak ada kata yang menonjolkan kulit putih. Hanya menonjolkan kulit yang bersih, jernih dan harum. Dan kata jernih ini terbuka untuk diinterpretasikan.

Sekitar 1991 pertengahan, Vitapharm juga memproduksi make-up dan lipstik bermerek Gayatri. Sayang merek Gayatri sudah tidak ada; Vitapharm hanya memfokuskan diri pada merk Viva Cosmetics yang lebih senior dan lebih berhasil di pasaran. Iklan TV-nya juga masih menonjolkan ciri khas keindonesiaan.

Iklan Gayatri, ca. 1991. Uploader iklan ini adalah seorang eksekutif biro iklan asal Australia yang pernah menggarap iklan di Indonesia.

Sudah waktunya biro iklan Indonesia berhenti memproduksi iklan yang menjanjikan lotion “yang menjamin kulit putih terang”, karena terdengar dan diinterpretasikan sebagai kampanye rasis. Iklan Gayatri ini sepertinya cukup paham soal masalah tersebut, karena pemerintah Orde Baru sendiri sangat sensitif dengan isu-isu SARA.