Sabun Cap Tangan (1986)

Sabun Cap Tangan - Bali Post, 7 Mei 1986
Multiguna. Bali Post, 7 Mei 1986

Cap Tangan adalah nama lama dari merk sabun Sunlight. Sabun yang sekarang digunakan hanya untuk mencuci perabotan dapur dan makanan ini awalnya merupakan sabun serbaguna, seperti yang diperlihatkan di iklan yang dicetak di harian Bali Post, konon bisa dipakai untuk cuci mobil dan cuci baju.

Sabun ini sudah diproduksi oleh Unilever di Indonesia sejak era 1930an dengan dibukanya pabrik Zeepfabrik di Jakarta. Dulunya berbentuk batangan, pada tahun 1973 Sunlight memperkenalkan varian sabun cari dari Sunlight seperti yang kita lihat saat ini. Ada yang tahu sejak kapan merk ini berhenti dijual dalam bentuk batangan?

Tevemania, siap-siaplah berhenti menyampah di kolom komentar ya…..

Sumber:

Bayfresh (1982)

Bayfresh - Femina, 30 November 1982
Sederhana. Femina, 30 November 1982

Ini iklan lawas yang penulis suka, dan bisa dibilang bakal tahan lama dalam bahasa desain. Tanpa tendeng aling-aling, Bayfresh meyakinkan pembaca bahwa, ini loh, merk pengharum ruangan yang harumnya seperti bunga dan segar. Bahasa desainnya universal dan masih terasa sangat baru bahkan untuk tahun 2020 dimana pemakaian komputer grafis menjadi sebuah keseharian.

Sayangnya, Bayfresh sudah bukan milik Bayer lagi; sejak 2003 merk ini berpindah tangan ke S.C. Johnson & Company. (sumber)

Deterjen Dino (1982)

Dino - Femina, 7 September 1982
Deterjen legendaris. Femina, 7 November 1982

Era milenial besar kemungkinan tidak tahu dengan merek deterjen Dino yang legendaris ini. Penulis menyebut demikian karena di masanya, merk ini adalah salah satu pesaing serius Rinso dalam pasar deterjen bubuk di Indonesia. Zaman itu belum ada Attack, apalagi So Klin dan Daia yang keseluruhannya baru muncul belakangan. Tiga tahun setelah iklan ini terbit perusahaan Jepang KAO Corporation membentuk kerjasama dengan Dino Indonesia Industrial, perusahaan pembuat deterjen Dino milik Grup Rodamas.

Bila melihat tahun dibentuknya Dino Indonesia Industrial, merk Dino sudah ada sejak 1969. Sayang, merk Dino tidak bertahan lama. Sementara kerjasama Dino dan KAO selesai pada 1997 karena KAO mencaplok Dino Indonesia Industrial….. dan krismon. Mungkin karena KAO tak mau deterjennya saingan dengan Dino kah? Penulis sebagai pengamat kelahiran 1990an kurang memahami pasti.

Referensi tambahan: https://www.kao.com/id/id/about/outline/history/

Pasta Gigi Darlie (1988)

Darlie - Kartini, 25 Juli 1988
George Floyd pun menangis andai ia melihat iklan ini. Kartini, 25 Juli 1988.

Rasanya anda setuju, iklannya sangat rasis sekali. Lihat saja logo dan namanya.

Merk pasta gigi Darkie sudah ada di Indonesia dari awal Orde Baru. Salah satu iklan Darkie terlama yang penulis temukan muncul pada tahun 1978, di harian KOMPAS, akan dimuat di lain hari. Produk pasta gigi ini diproduksi oleh Hawley & Hazel sejak 1933, dan dijual di beberapa negara. Di Indonesia, merk Darkie diproduksi oleh Filma Utama Soap, anak perusahaan Tempo Scan Pacific.

Iklan tersebut dimuat oleh Metro Advertising, yang diambil alih biro asal Perancis, Publicis sejak 2001.

Saat iklan ini terbit, merk Darkie, yang menguasai pangsa pasar besar di negara-negara Asia Timur dan Tenggara, kecuali Indonesia yang sepertinya kelenger menghadapi dominasi Pepsodent dan Ritadent, sedang dalam sorotan masyarakat kulit hitam Amerika Serikat, ormas-ormas kulit hitam seperti NAACP dan beberapa gereja. Lambang orang blackface dengan mata melotot dan topi panjangnya, dengan nama “darkie”, istilah yang digunakan untuk merendahkan derajat masyarakat kulit hitam, menjadi akar masalahnya.

Kontroversi yang merebak di Amerika inilah yang membuat Colgate, meminta anak perusahaannya, Hawley & Hazel, (Colgate membeli Hawley & Hazel pada tahun 1985) untuk mengganti nama merk tersebut menjadi “Darlie”, secara bertahap. Indonesia baru menerima nama baru, beserta logonya yang tidak terlihat rasis lagi, pada tahun 1991. 29 tahun kemudian, Colgate kembali meminta Hawley & Hazel untuk mengkaji dan mempertimbangkan kembali nama merk Darlie setelah pendemo, di bawah panji Black Lives Matter, mengamuk di seluruh dunia pasca-peristiwa George Floyd.

Sepertinya perubahan yang dilakukan pada 1989 ternyata tidak pernah memuaskan pihak kulit hitam, dan Hawley & Hazel tidak mau pangsa pasarnya ciut karena perubahan merk tanpa memahami karakter daerah. Antara uang dan todongan Black Lives Matter yang menolak lupa dengan nama rasis merek pasta gigi tersebut, Hawley & Hazel harus mengambil keputusan.

Sumber yang digunakan:

Superbusa (1982)

Tidak secemerlang dahulu. KOMPAS, 2 Mei 1982. Link

Diatas merupakan iklan deterjen batangan merk Superbusa yang diproduksi pada tahun 1980an awal. Di masa tersebut deterjen batangan memang sangat populer, karena, alasannya cukup sederhana, saat itu orang mencuci baju dengan papan dan anda kucek sendiri di batu atau papan kucek, orang tua penulis tahu lebih banyak soal deterjen bubuk. Zaman itu belum ada mesin cuci, dan kalaupun ada, hanya kalangan kelas atas yang mampu membelinya.

Dengan kemajuan zaman, dan populernya deterjen-deterjen kotak dan mesin cuci, bahkan dengan munculnya laundromat alias jasa binatu/penatu, deterjen batangan kehilangan gaungnya, bahkan sekarang sudah punah. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit.

Mungkin ada di antara anda, yang tahu siapa produsen deterjen Superbusa? Ada yang tahu ada merek sejenis, dan terakhir kali diproduksi?

Semoga Tuhan membimbing netizen Indonesia, dan penulis blog, menguak misteri merk Superbusa.