Biskuit Selamat (1988)

Biskuit Selamat - Kartini, 25 Juli 1988
Masih Selamat di Tangan Ceres. Kartini, 25 Juli 1988

Inilah merk biskuit cokelat yang sampai saat ini masih bertahan di tengah perang biskuit yang ketat. Kini diproduksi oleh Ceres Food Industries di Bandung, Jawa Barat, biskuit cokelat ini disebut sudah ada sejak 1970an menurut laman resmi Grup Delfi yang memegang hak merek produk-produk Ceres. Perbedaan Selamat masa lalu dengan masa sekarang, adalah sekarang tidak memakai embel-embel Van Houten dan tidak menyediakan rasa moka dan jeruk.

Sumber: http://web.archive.org/web/20200221045213/https://www.delfilimited.com/business_brands.html

Nescafe (1988)

Nescafe - Majalah Eksekutif, Oktober 1988
Nescafe ada di mana-mana. Majalah Eksekutif, Oktober 1988

Masih mengenai kopi Nescafe. Dan sepertinya ini lebih menonjolkan manfaat ngopi dari “testimoni” orang sukses Indonesia, dan bahwa kopi Nescafe selalu mengglobal.

Yang muncul di iklan ini adalah Jusuf Randy alias Mang Ucup, pemilik Lembaga Penelitian Komputer Indonesia-Amerika (pionir pendidikan komputer di Indonesia) dan programmer kawakan pertama asal Indonesia, namun sama seperti Anggun, akhirnya memilih menjadi desertir untuk Belanda.

Sumber tambahan: http://www.biskom.web.id/2009/09/19/para-perintis-ti-indonesia-bagian-1.bwi

Klim (1988)

Susu Klim - Kartini, 25 Juli 1988
ASI tetap dianjurkan! Kartini, 25 Juli 1988

Iklan susu ini memang cukup “bertahan lama”, walau merk Klim yang sekarang dimiliki oleh Nestle sejak akhir 1990an. Iklan ini bisa dibilang berani saat itu, di masa pabrikan susu gencar mengiklankan susu formula untuk bayi. Dokter yang muncul di iklan Klim menyarankan bayi untuk tetap diberikan ASI, setidaknya sampai 2 tahun. Penulis tidak mengetahui siapa produsen susu Klim saat itu.

Sayangnya, harga susu KLIM di pasar Indonesia modern sangat mahal dan jarang ditemukan; kemasan kaleng sendiri juga sudah tidak diminati. Klim awalnya merupakan merek dagang Borden Foods dari Amerika Serikat.

Bayfresh (1982)

Bayfresh - Femina, 30 November 1982
Sederhana. Femina, 30 November 1982

Ini iklan lawas yang penulis suka, dan bisa dibilang bakal tahan lama dalam bahasa desain. Tanpa tendeng aling-aling, Bayfresh meyakinkan pembaca bahwa, ini loh, merk pengharum ruangan yang harumnya seperti bunga dan segar. Bahasa desainnya universal dan masih terasa sangat baru bahkan untuk tahun 2020 dimana pemakaian komputer grafis menjadi sebuah keseharian.

Sayangnya, Bayfresh sudah bukan milik Bayer lagi; sejak 2003 merk ini berpindah tangan ke S.C. Johnson & Company. (sumber)

Dunkin’ Donuts (1988)

Dunkin' Donuts - Kartini, 25 Juli 1988
Doesn’t worth the trip back then…… Kartini, 25 Juli 1988

Dunkin’ Donuts adalah restoran donat dan kedai kopi kenamaan asal Boston, Amerika Serikat, bentukan Bill Rosenberg pada tahun 1940, saat Perang Dunia II sedang berkecamuk.

Iklan ini terbit saat Dunkin’ Donuts baru 3 tahun di Indonesia, dan gerainya hanya di Jakarta. Penulis masih selidiki kapan tepatnya DD masuk Indonesia pada tahun 1985. Gerai di Hayam Wuruk adalah gerai pertama dan masih buka saat ini, bertempat di pertigaan Hayam Wuruk dengan Jalan Batu Ceper. Sementara di Jalan Melawai Raya 8A sudah tidak ada bekasnya lagi.

Bagi yang saat itu kepincut ama iklan ini di Jakarta, segelas Cola dan donat dengan harga setara 150 ribu rupiah sekarang, diabetes dan kolesterol tinggi menanti anda. Tapi yang tinggal di luar Jakarta, mengutip motto Dunkin’ Donuts saat itu, it’s worth the trip, dengan DD pertama di luar Jakarta belum buka sampai tahun 1990an.

Sumber tambahan: http://www.dunkindonuts.co.id/about.php

Susu Bendera (1985)

Susu Bendera - Femina, 15 Mei 1985
Tidak heran, Susu Bendera paling banyak diminum di Indonesia di masanya. Femina, 14 Mei 1985

Ini iklan kedua Susu Bendera yang penulis tulis, tiga tahun setelah iklan bernuansa Eropa-nya muncul di majalah yang sama. Sekarang di iklan ini, nuansa keluarganya lebih ditonjolkan dan dalam teksnya, menonjolkan betapa bergunanya susu kental manis tidak hanya saat diseduh menjadi susu, tapi menjadi topping roti bakar atau es krim. Ini baru kisah nyata.

Susu Ultra (1985)

Ultra Milk - Seribu Wajah Jakarta 1985
Satu sudah dijual mereknya, beberapa eksis, sisanya punah. Seribu Wajah Jakarta 1985

Buku terbitan pemerintah di era 1980an ternyata sedikit berstandar ganda. Penyebabnya sangat sederhana; di buku iklan diperbolehkan, tetapi tidak di TVRI dan RRI. “Atas nama mencegah konsumerisme yang berlebihan”.

Tapi iklan ini mempromosikan seluruh lini produk Ultrajaya saat itu pada tahun 1985-86, seperti yang penulis janjikan sebelumnya di blog post iklan Susu Ultra tahun 1982. Selain Ultra Milk, di foto iklan di atas, juga muncul merk Teh Kotak, Teh Bunga, Sari Kacang Ijo, Teh Lemon, Go-Go Juice, Buavita, Teh Lemon dan Ultra Charm. Belum ada Sari Asem Asli dan susu kental manis dalam iklan ini, bahkan diperkenalkannya saja belum.

Dari produk yang muncul di iklan tersebut, susu yoghurt Ultra Charm sudah ditarik dari pasaran sejak lama, padahal bisa dikatakan Ultra Charm merupakan susu yoghurt dalam kemasan pertama di Indonesia, membuat Heavenly Blush dan Cimory bukan produk yang benar-benar terobosan. Hal yang sama terjadi pada Teh Lemon. Teh Bunga kemungkinan berhenti produksi beberapa tahun lalu di dekade 2010an, sementara merek dagang Go-Go dan Buavita dijual ke Unilever, walau Ultrajaya masih dikontrak memproduksi minuman rasa buah Buavita.

Penulis blog memiliki 800 lembar saham Ultrajaya Milk Industry.

Sumber tambahan: http://www.ultrajaya.co.id/investor-relation/annual-report/ind

Mie ABC (1994)

Mie ABC - Jawa Pos, 10 Februari 1994
Setelah beberapa lama di selera asal, ABC kini menatap selera pedas. Jawa Pos, 10 Februari 1994

Inilah merk mie yang sebenarnya bisa menjadi pesaing serius Indomie dari Indofood dkk dan terakhir, Mie Sedaap dari Wings. Mie ABC ini adalah mie produksi ABC President, patungan dari ABC Central Foods dan Uni-President Enterprises dari Taiwan. Sayang, pada 1999, ABC Central Foods dicaplok H.J. Heinz Company dari Amerika Serikat, menjadikan perusahaan ini relatif independen.

Produk mie ABC President tidak hanya berupa mi cup alias pesaing Pop Mie yang sayangnya kalah dari segi pangsa pasar (dan bahkan dari penilaian penulis, tidak sampai ke pedagang asongan dan rak kedai mie di kapal-kapal penyeberangan); tetapi juga mi Selera Asal (mie biasa) dan mie Selera Pedas.

Sumber tambahan: http://abcpresident.com/